Kabupaten TTU Selayang Pandang

 Timor, TTU

Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terletak di tengah pulau Timor, propinsi Nusa Tenggara Timur dengan ibukota Kefamenanu. Kabupaten TTU sendiri berada pada posisi antara 90 02’ 48’’LS – 90 37’ 36” LS dan antara 1240 04’ 02” BT – 1240 46’ 00” BT. Luas wilayahnya mencapai 2.669,7 km² dengan jumlah penduduk 211.350 orang (105.830 laki-laki dan 105.520 perempuan). Jumlah ini terus meningkat. Luas wilayah tersebut hanya 5,6% dari luasa daratan di propinsi Nusa Tenggara Timur dan juga memiliki garis pantai sepanjang 50 km dengan luas laut ± 950 km2. Wilayah kabupaten TTU terbagi dalam 24 kecamatan, 140 desa dan 34 kelurahan.


Batas-batas wilayah kabupaten TTU :
1. Sebelah utara berbatasan dengan negara tetangga Republik Demokrat Timor Leste dan Laut Sawu
2. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)
3. Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Kupang
4. Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Belu

Masyarakat TTU rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, buruh dan wiraswasta serta sebagian bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Hasil pertanian didominasi jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian dan sayur-mayur. Sedangkan hasil peternakan sebagian besar pada sapi, kambing, babi dan ayam. Banyak masyarakat TTU yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan rumah yang tidak layak huni, pendapatan ekonomi yang jauh dari cukup, dengan pendidikan yang relatif rendah. Hidup masyarakat kecil bergantung pada hasil kebun, ternak dan sedikit bantuan dari pemerintah. Ternak seperti sapi, babi dan kambing menjadi penyambung kehidupan masyarakat sekaligus penyambung sekolah anak-anak mereka.
Sebagian besar masyarakat TTU adalah orang Dawan(Atoin Meto) yang menjadi penduduk asli TTU. Budaya daerah masih sangat kental dan melekat pada masyarakat setempat tercermin dari upacara-upacara adatnya yang unik, rumah adat yang menarik serta peraturan adat yang mengikat. Mayoritas masyarakat TTU beragama Katolik, diikuti Kristen Protestan, Islam dan Hindu-Budha. Toleransi antar umat beragama sangat dijunjung tinggi.
“Nekaf mese ansaof mese ; Satu dalam hati dan pikiran” menjadi semacam falsafah hidup masyarakat TTU sekaligus menjadi api pengobar semangat dalam pembangunan daerah, melestarikan budaya leluhur hingga gotong royong dalam kehidupan bersama di masyarakat. Masyarakat dengan pluralisme bila disatukan dalam satu tekad dan semangat yang sama, maka pembangunan akan lebih mudah dijalankan.
Selain itu masyarakat TTU juga adalah tipikal pekerja keras. Salah satu moto yang masih menjadi pegangan masyarakat hingga saat ini yakni “Mpeup onle ate, tah onle usif ;kerja seperti hamba makan seperti raja”. Semangat semacam ini pula yang menjadi pemacu dalam bekerja dan tidak pernah mengenal kata putus asa dan menyerah.
Kini kabupaten TTU terus berbenah diri menjadi kabupaten yang mandiri, modern, dan siap bersaing dengan kabupaten lainnya. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah SDM masyarakat maka langkah awal adalah pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan sekolah hingga perguruan tinggi. Dengan falsafah yang ada, masyarakat akan lebih mudah didorong untuk turut serta dalam pembangunan. Maju terus TTU-ku. Kami bangga padamu…:)

                                * * * 
Jogja, 13 Desember 2010
Untuk TTU yang lebih baik…

Sumber : http://www.ttukab.go.id

*images : koleksi foto PATTU Biinmafo on Facebook

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia Hosting Cloud Murah

Related Posts

Leave a Reply