Seminari Lalian ; sebuah catatan kenangan

 Kisah, Refleksi, Timor
Halaman depan Seminari Lalian

            Seminari Lalian. Begitulah sebagian kecil masyarakat di Timor mengenal sebuah lingkungan kecil yang dikelilingi bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda itu. Tak banyak yang istimewa di sana, hanyalah sekumpulan bangunan tua yang jadi saksi bisu tumbuh dan berkembangnya sekelompok remaja gila yang datang dari berbagai daerah yang berbeda, namun dengan satu cita-cita, mengikuti jalan panggilan yang Tuhan bisikkan bagi mereka. Waktu dan zaman terus berganti. Tiap angkatan datang dan pergi, masing-masing mereka punya banyak kenangan yang takkan pernah mereka lupakan seumur hidup.
            Lima tahun lalu, seusai menuntaskan pendidikanku pada jenjang SLTP, kuputuskan untuk masuk Seminari Lalia.  Keputusanku sudah bulat. Mungkin ini keputusan terbesarku kala itu, saat banyak teman-temanku yang memilih masuk ke sekolah negeri atau sekolah-sekolah swasta yang favorit, saya justru memilih untuk melanjutkan pendidikan SLTA-ku di Seminari Lalian. Di saat banyak remaja merasakan euforia masa remaja, berpacaran dan menikmati indahnya dunia remaja, kami justru terkurung dalam bangunan tua ini dengan terikat sejumlah aturan yang ketat. Memang berat untuk bisa sekolah di Seminari Lalian atau di seminari manapun. Seminari merupakan sekolah menengah atas (SMA) yang dikhususkan hanya bagi pria saja. Seminari menjadi ladang pembibitan bagi cowok-cowok tulen yang merasa terpanggil untuk kelak melayani Tuhan dan bekerja di kebun anggur milik-Nya. Jadi tidak mengherankan bila di dalam kelas semuanya laki-laki (hehehe…). Apalagi sistem pendidikan di sana (seminari, pen) juga sering mengeluarkan para siswanya yang melanggar aturan-aturan (misalnya bolos, merokok, minum miras,dll ) dan nilai ujian semester yang tidak memenuhi standar nilai seminari entah itu nilai mata pelajaran wajib ataupun mata pelajaran khusus seminari. Para seminaris (sebutan bagi para siswa seminari) juga harus menghabiskan empat tahun pendidikan di seminari untuk bisa melanjutkan ke jenjang frater atau filsafat. Selain itu pula menu makanan harian yang selalu didominasi nasi putih dan kacang hijau, mungkin akan menyebabkan rasa bosan pada siapa pun itu. Artinya bila nanti masih bertahan di seminari hingga kelas 3, teman-teman kami seangkatan pada masa SMP dulu sudah mengenyam bangku kuliah sedangkan kami masih berstatus anak SMA (wow….!!!). Sebelum masuk Seminari Lalian, saya sudah tahu begitu banyak tentang kehidupan di sana, karena kakak saya Tryles Neonnub sudah dahulu merasakan kehidupan di sana. Maklum dulu sering mengantarkan uang bulanan dan makanan ringan bagi dia, sehingga saya semakin tertarik untuk masuk ke sana, merasakan kehidupan seminari yang selama ini hanya terlihat selintas beberapa saat bila saya mengunjunginya di Lalian. Keinginan untuk bersekolah di sana, ikut merasakan kerasnya hidup di seminari dan punya sedikit cerita di hari tua tentang Seminari Lalian, akhirnya mengalahkan semua rasa kekhawatiran saya akan kehidupan seminari yang keras dan mungkin terkesan membosankan dengan berbagai rutinitas harian yang kaku dari kacamata awam pada umumnya.
    Bersama lima orang temanku, Sebastianus Sau (Basti) dari Ekafalo-Paroki Kiupukan, Kanisius Kono (Kanis) dari Tualeu-Paroki Maubesi, Alfonsius Ligouri Sila (Ligo-alm) dari Ekafalo-Paroki Kiupukan, Antonius Anunut (Toni) dari Nispukan-Paroki Kiupukan, dan Aprianus Adiserlyanto Sonbay (Yanto) dari Sap’an-Paroki Kiupukan, kami melamar masuk ke Seminari Lalian. Namun Yanto memutuskan untuk tidak masuk ke Seminari Lalian dan memilih masuk SMA 1 Insana. Alhasil hanya kami berlima yang bisa masuk ke Seminari Lalian setelah melewati test di sana.

Jalan Eropa menuju Istana Keuskupan Atambua dan Emaus

    27 Juli 2005, jadi hari yang takkan pernah kulupakan dalam hidupku. Hari itu jadi awal baru hidupku selama di Seminari Lalian. Bersama 122 orang lainnya kami coba jalani kehidupan baru di rana Lalian.  Perlahan-lahan satu, dua mulai tumbang, hingga akhirnya sisihkan kami 60 orang di tahun terakhhir. Hidup di seminari harus serba disiplin. Segalanya diatur dengan waktu dan lonceng kecil. Kedisiplinan inilah yang menjadi kunci kesuksesan bagi Seminari Lalian dan menempatkanya sebagai salah satu sekolah favorit di Timor dan NTT yang berakreditasi A. Bila dulunya sering bangun pagi masih bermalasan dan sesuka hati, maka di Seminari Lalian, segala aktivitas pagi dimulai masih pagi-pagi buta, sebelum mentari bersinar. Selama di Seminari Lalian, saya belajar banyak hal, tentang persahabatan, persaudaraan, pengorbanan dan kesetiakawanan. Ini menjadikan kami kuat. Selama di sana pula saya terbiasa dengan yang namanya kacang hijau, menu utama di Seminari Lalian hingga kini.

Kapela Seminari Sta. Maria Immaculata Lalian

    Salah satu kenangan yang sempat saya torehkan di Seminari Lalian yakni kala mewakili Seminari Lalian mengikuti lomba menulis esai se-Indonesia di Jakarta, dari tanggal 9-14 November 2008. Waktu itu saya sudah kelas 3. Artinya sudah tiga tahun lebih merasakan suka dan duka di bumi Lalian. Bermula dari keisengan untuk mengikuti lomba tersebut, namun entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, saya terpilih bersama 9 nominator lainnya dengan esai terbaik. Kami berhak ke Jakarta dan mengikuti pelatihan dan lomba lanjutan. Selama di Jakarta, kami mendapatkan pelatihan jurnalisitik dan fotografi sekaligus bersaing dengan 9 orang terbaik lainnya. Sekali lagi keberuntungan datang menghampiri. Setelah penilaian terakhir, saya menjadi runner-up. Saya sangat puas dan bangga karena semua hasil keringat selama belajar di Seminari Lalian tidak sia-sia. Namun sangat disayangkan, semua cerita indah itu cepat berakhir di tengan jalan. Masih jelas dalam benak saya. Kala itu 24 November 2008 saya dan lima orang teman saya, Johanes Jimmy Raga (Jimmy) dari Atambua, Lifen Bukifan, Okto Kosat Jr, dan Gabriel Dao yang sama-sama dari Kefa harus dikeluarkan dari Seminari Lalian jelang Ujian Pra UAS kami lantaran kedapatan memiliki dan menggunakan handphone. Menyakitkan memang. Akhirnya kami harus mengubur semua mimpi kami di Seminari Lalian itu. Kami akhirnya melanjutkan sisa semester kami di SMA luar. Jimmy melanjutkan sekolahnya di SMA 1 Atambua, Lifen, Gebi dan Okto Kosat Jr melanjutkan ke SMUK Warta Bhakti Kefa. Sedangkan saya sendiri akhirnya melanjutkan ke SMA 1 Insana. Ironis memang, namun itulah hidup, semuanya berjalan tanpa pernah kita duga sebelumnya. Selamat tinggal Seminari Lalian, kenangan tentangmu akan terus membekas dalam nubari. Seminari Lalian adalah ibu bagi kami, yang sudah ajarkan kami begitu banyak hal yang tidak akan pernah kami dapatkan pada kehidupan di luar sana. Terima kasih Seminari Lalian, kelak kau pun akan bangga memiliki kami.

                                                         * * *

Yogyakarta, 12 Desember 2010
Untuk Seminari Lalian, rumah kecil keindahan…
 

image source: Seminari Lalian on Facebook

  

Related Posts

One Response

  1. AlzSep 27, 2016 at 6:24 pmReply

    Terbaik

Leave a Reply