Gerakan Aktif Melawan Kekerasan Tanpa Kekerasan

 Opini, Refleksi
Apa loe !!!

Dalam beberapa hari terakhir ini kasus kekerasan sering menjadi headline news berbagai media pers nasional, entah itu media cetak maupun media elektronik. Tercatat beberapa yang menjadi sorotan utama yakni tindakan anarkis terhadap jemaat Ahmadiyah di Padeglang, Banten dan juga kasus penistaan agama yang berbuntut pada pembakaran tiga gereja di Temanggung, Jawa Tengah. Tentu tindakan anarkis segelintir orang itu telah menodai kaidah luhur Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai cerminan falsafah bangsa dalam kemajemukan. Di sisi lain tentu ini juga telah mencoreng citra Indonesia di dunia internasional sebagai bangsa yang toleran, ramah dan sopan santun. Tapi saya tidak akan membahas itu lebih jauh. Saya ingin fokus pada reaksi yang timbul akibat adanya tindakan kekerasan, mencoba memahami dari sisi para korban kekerasan.

              Kekerasan sudah sejak lama melingkari sejarah kehidupan manusia, bahkan jauh berabad-abad yang lalu sebelum Masehi. Namun sebelumnya, alangkah lebih baik bila kita pahami terlebih dahulu pengertian kekerasan itu sendiri. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kekerasan sebagai sesuatu yang berciri keras; perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; paksaan. Secara sederhana dapat kita pahami sebagai sebuah tindakan yang tentu mengancam hak hidup dari orang lain. Kekerasan dapat terjadi kapan dan di mana saja. Dalam tatanan dunia yang kian mengglobal kini, kekerasan dipandang sebagai salah satu bentuk pengkhianatan terhadap eksistensi hak asasi manusia yang telah melekat sejak manusia itu berada dalam kandungan. Kekerasan tentu jelas ditolak karena melanggar nilai-nilai kemanusiaan dan sering dipandang juga sebagai tindakan kriminal. Ada begitu banyak alasan orang melakukan tindak kekerasan; karena perbedaan kepentingan dan pandangan, bisa karena sakit hati, tidak puas akan sesuatu hal, melakukan demi ideologi atau doktrin-doktrin tertentu, sebagai bentuk reaksi terhadap aksi -aksi yang sebelumnya(tindakan balas-membalas),  perlawanan, pemberontakan ataupun terjadi secara spontan dan masih banyak alasan lainnya.

Tak seharusnya terjadi seperti ini
                Ada 2 jenis reaksi yang timbul kala seseorang menjadi korban kekerasan yakni reaksi pasif dan agresif.
a.       Reaksi Pasif
Dalam jenis reaksi ini, ketika menghadapi kekerasan atau dikenai tindakan kekerasan, manusia akan bersikap:
1.                Bersikap pasif, tidak ada perlawanan, cenderung pasrah, menyerah, diam, menerima kekerasan sebagai hal yang wajar.
2.                Tipe Eskapis (escape), melarikan diri atau menyingkir dari kekerasan untuk menghindari berbagai akibat buruknya.
3.                Tidak peduli, cuek. Ini disebabkan lantaran telah tertanamnya doktrin-doktrin pada pribadi tersebut.
4.                Reaksi ini timbul karena rasa takut, tidak berdaya untuk melawan, tidak terorganisir, kebiasaan “mudah menyerah”, rasa tanggung jawab sosial yang rendah, gambaran yang keliru tentang Tuhan, atau rekayasa dari pihak luar (misalnya penjinakan massal)
5.                Reaksi ini berarti sama dengan membiarkan kekerasan dan ketidakadilan terus terjadi dan ketakutan semakin besar
b.      Reaksi Agresif
Reaksi agresif ditunjukkan dengan melawan kekerasan dengan menggunakan cara-cara kekerasan pula, menghancurkan pelaku kekerasan.
Reaksi ini biasanya disebabkan oleh naluri mempertahankan hidup, ingin cepat menyelesaikan masalah, dipengaruhi oleh situasi kekerasan yang sudah sering dan biasa dialami, putus asa dan tidak melihat kemungkinan lain, atau karena sudah terbiasa melakukan kekerasan pula. Akibatnya kekerasan terus terjadi, bahkan meningkatkan eskalasinya (kekerasan semakin meningkat daya rusaknya).
Dengarkan kami wahai para pemimpin negeri ini

Tindakan melawan tanpa kekerasan

Kekerasan tentu bukanlah solusi tepat penyelesaian masalah apalagi kita tahu sendiri akibatdari kekerasan itu sendiri. Kekerasan tentu juga tak harus dilawan dengan kekerasan. Ada cara-cara lain yang jauh lebih beradab dalam menghadapi tindakan kekerasan yang brutal, melalui;
          1. Active non-violence (ANV).
          2. Melawan kekerasan dengan cara-cara tanpa kekerasan.
          3. Berusaha memutus “rantai” kekerasan (berlanjutnya kekerasan demi kekerasan).
         Tindakan ini memang tidak menjamin kekerasan berhenti sama sekali, namun mampu menghentikan kekerasan dari pihak diri sendiri (tidak ikut melakukan kekerasan/kontrol terhadap diri sendiri).
         Bahkan berpotensi mempengaruhi pelaku kekerasan menghentikan tindak kekerasan.
Tentu semua ini menjadi tanggung jawab kita bersama dalam memelihara perdamaian serentak menjauhkan kekerasan dari kehidupan manusia. Semoga esok tak ada lagi kekerasan dan tindakan anarkis lainnya. Pilihan terakhir ada pada saya dan Anda.
    
                                                              * * *
Jogja, 15 Februari 2011
Bersama kita pasti bisa
Sumber : layout pelatihan jurnalistik di Jakarta

Mari kita bangun kedamaian itu mulai dari diri kita masing-masing untuk kedamaian yang universal. by : Denny Neonnub

Related Posts

Leave a Reply