SMA Negeri 1 Insana

 Kisah, Timor, TTU
Lap Voli SMA Negeri 1 Insana

Sudah begitu banyak kisah terukir di sini, cerita-cerita masa remaja yang terlukis di sini, bukan cuma di tempat ini namun telah membekas abadi di hati setiap insan yang pernah melewati masa-masa pubertas remaja di tempat ini. Mungkin banyak orang tidak begitu mengenal tempat yang satu ini karena begitu jauh dari hiruk pikuk kesibukan dan kebisingan kota, tak sepopuler Disneyland atau sebagainya, namun tempat ini pernah menjadi sebagian cerita kehidupan sekelompok remaja bahkan untuk mereka yang kini telah menyandang status orang tua. 
          Kami menyebut tempat itu sekolah. Ya, sekolah kami, SMA Negeri 1 Insana. Tempat ini tak begitu istimewa, hanyalah bangunan sekolah dengan fisik bangunan yang masih di bawah standar sebuah pendidikan yang bermutu. Apalagi letaknya yang nyaris di hutan (begitu kata orang-orang) menjadikan sekolah ini benar-benar tidak menjadi sekolah pilihan bagi mereka yang sekedar melihat sesuatu dari luarnya saja tanpa bisa menilai sisi dalamnya. Tapi anggapan mereka itu jelas salah. Semenjak pertama kali dibangun, SMAN 1 Insana telah menjadi rumah bagi anak-anak daerah setempat untuk bisa menempuh pendidikan menengah atas tanpa harus lagi jauh-jauh ke kota yang tentu akan lebih memakan biaya, entah itu biaya hidup maupun pendidikan yang relatif mahal. Alasan itu pulalah yang menjadikan SMA Insana terus menjadi rumah bagi mereka yang kurang mampu dan tersisih namun punya cita-cita untuk membangun ibu pertiwi tercinta. Maka tak heran pula bila selain anak-anak daerah(dari Insana, pen), ternyata banyak juga anak-anak dari luar daerah, misalnya dari Belu, Soe ataupun Kupang memilih mengenyam pendidikan di sana. Tentu mereka punya alasan tersendiri untuk bersekolah di SMA 1 Insana.
           Saya adalah satu dari sekian ribu remaja yang pernah merasakan duduk di bangku pendidikan SMA Negeri 1 Insana, walaupun cuma bisa menikmati masa pendidikan setahun, maklum saya adalah ex atau mantan seminaris yang harus gulung tikar dari Seminari Lalian lantaran melanggar peraturan di sana. Bersama Lifen Bukifan, Gabriel Dao, Okto Kosat Jr, dan Jimmy Raga kami dikeluarkan pada hari pertama pra UN. Masalahnya memang berat untuk aturan sekaliber di seminari;bolos, pacaran dan diam-diam membawa hp. Lifen, Gaby dan Okto akhirnya melanjutkan ke SMUK Warta Bhakti Kefamenanu sedangkan teman Jimmy di SMA 1 Atambua. Pada awalnya saya juga sudah mendaftarkan diri di SMUK Warta Bhakti namun akhirnya berubah pikiran dan lebih memilih ke SMA 1 Insana yang lebih dekat dengan rumah. Alasannya sederhana, tak ingin repot harus memasak lagi, maklum bila harus di Kefa, berarti saya harus bisa masak sendiri tiap hari, namun bila di rumah urusan semacam ini pasti beres, tinggal tunggu hasilnya. Hehehe..:)

Jalan masuk SMA 1 Insana

SMA 1 Insana

         Sekolah ini memang unik, begitulah kesan pertama saya kala memasuki SMA 1 Insana. Ini jelas jauh berbeda dengan sekolah saya sebelumnya, Seminari Lalian yang semuanya laki-laki. Di sini, saya jumpai banyak cewek cantik dengan beragam karakter yang menarik, sayangnya mereka sudah ada yang punya. Hari-hari terlewati, saya dengan mudah bisa beradaptasi dengan teman-teman baru dan juga aturan di SMA 1 Insana, maklum sudah terbiasa hidup terikat aturan sebagaimana di seminari. Semua guru di sini baik, bahkan sangat baik. Ada pak Titus Jemadu yang mengajar Bahasa Indonesia, pak Milikhior Suni guru Sosiologi sekaligus kepala sekolah, pak Wens Lopes selaku guru Biologi, pak Zarus Molo guru Matematika yang sangat pandai, pak Ferdi Bessie guru Akuntansi sekaligus wali kelas kami, ibu Fat guru muda yang cantik mengajar Sejarah, pak Marsel Nahak guru Bahasa Inggris, pak John Bosko guru Pendidikan Kewarganegaraan, pak Yos Moensaku guru olahraga, pak Frans Nautu guru Geografi, pak Tren Am’isa selaku guru agama kami (guru agama Katolik) dan tak ketinggalan ibu Siska Safe, guru TIK kami. Itulah beberapa guru yang pernah mengajar saya di SMA 1 Insana. Masih banyak guru lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu per satu. Mereka itulah roda penggerak pendidikan di SMA 1 Insana, bahkan bisa dibilang di Indonesia pula karena mereka adalah pahlawan-pahlawan yang berjuang memajukan pendidikan di daerah-daerah tertinggal seperti di daerah saya itu. Walaupun ada sedikit siswa yang memandang bahwa guru A kejam, atau guru B sangat keras, namun bila direfleksikan kembali, apa yang mereka buat itu jelas untuk kebaikan kami para siswanya. Jadi jelas, itu adalah kebaikan terselubung dari mereka, pahlawan tanpa tanda jasa. Ini hanya cerita kecil, yang coba saya sharing-kan dan semoga bisa bermanfaat.
                                                    * * *
Jogja, 13 Februari 2011
Untuk semua guru-ku di SMA 1 Insana dan teman-teman seangkatan, teruslah raih apa yang pernah kita impikan…

Koleksi foto by Manek Taolin

Dream will be come true

     
      

Related Posts

Leave a Reply