Karena Wanita Ingin Dimengerti

 Kisah, Refleksi
Sebuah catatan reflektif…
Yodi bertemu teman
lamanya semasa kuliah di sebuah restaurant sea
food
. Temannya begitu kaget bercampur kagum pada sosok Yodi yang kini
meraih sukses dan juga memiliki istri yang sangat cantik. Disela-sela
perbincangan mereka kala istri Yodi sedang ke belakang, dengan iseng temannya
bertanya bagaimana Yodi bisa mendapatkan istri yang sangat cantik sedangkan
dulu di bangku kuliah Yodi dikenal sebagai pribadi yang tertutup soal urusan
wanita. Beginilah cerita Yodi.
                “Ketika
masih mengenyam pendidikan di bangku SMA pada tahun pertama, saya berpacaran
dengan seorang wanita. Sebut saja wanita A. Dia cinta pertama saya. Tapi
hubungan kami cuma bertahan enam bulan karena kemudian saya putuskan untuk
berhenti lantaran sikapnya yang sangat pecemburu. Dia bisa menangis terisak
berjam-jam bila tahu kalau saya sedang ngobrol dengan teman wanita lainnya. Ini
saya ketahui dari teman akrabnya dan beberapa temannya yang lain. Dia juga
cepat termakan cerita iseng dari teman-temannya yang mengatakan bila saya
selingkuh, padahal semua itu hanyalah kelakar mereka semata untuk mengerjai dia.
Dari si A, saya kemudian mencintai wanita B. Dia gadis yang cantik dan
perhatian. Kami akhirnya putus memasuki tahun kedua karena dia gagal naik
kelas. Saya tidak tahu persis alasannya mengapa, mungkin juga karena ia terlalu
fokus pada urusan cinta kami hingga mengabaikan pelajaran sekolah. Keputusan
itu saya pikir tepat agar dia bisa lebih fokus dalam belajar dan tak mengulang
kelas lagi walau sebenarnya saya mencintainya, hanya saya tidak bisa mencintai
wanita yang terlalu mencintai sesuatu yang lain lalu mengabaikan hal-hal lainnya
yang juga penting bahkan jauh lebih penting. Berlalu dari hati si B, sebulan
kemudian saya menjalin cinta dengan wanita C, adik kelas saya.  Dia wanita yang cerdas dan cantik, tepat
seperti yang saya idam-idamkan. Namun sama seperti wanita A dan B, cinta kami
pun akhirnya harus kandas. Bahkan cuma dua bulan pacaran. Alasannya cuma satu,
dia seorang gadis yang pendiam dan pemalu. Sepertinya dia lebih mencintai
sendal atau sepatunya, bahkan mungkin kukunya juga. Karena selama kami bertemu
(kencan), tak pernah dia berani memandang mata saya. Matanya asyik memandangi
sepatu sekolahnya, kadang-kadang memperhatikan kukunya, seolah mencari
rumus-rumus Matematika.  Dia hanya akan
berbicara ketika ditanya dan akan terus jadi pendengar setia ketika saya
berbicara. Lalu saya berpindah ke lain hati, kali ini ke wanita D. Tepat
seperti tipe saya, dia wanita yang periang, mudah bergaul dan murah senyum. Tak
heran dia memiliki banyak teman. Namun sekali lagi prahara datang mencobai  hubungan kami. Dia menduakan cinta kami,
bahkan itu dia lakukan dengan teman SMP saya dulu, walau akhirnya kami berbeda
sekolah kala SMA. Hubungan itupun berakhir seperti cinta lain yang pernah
singgah berlabuh di hati. Setelah putus dari wanita D dan saya memasuki tahun
ketiga di bangku SMA saya menemukan tambatan hati yang baru. Pada awalnya semua
berjalan lancar, bahkan saya pikir dia bakal jadi wanita terakhir dalam
pencarian cinta sejati saya. Tapi sekali lagi saya salah. Sangat salah. Hubungan
kami masih berjalan baik hingga kami selesai UN dan lulus. Memasuki setahun
bulan jalinan cinta kami, sifat buruknya mulai
timbul. Dia tipe cewek yang suka mengatur, harus beginilah, harus begitulah,
jangan beginilah, jangan begitulah, semuanya berada di bawah kendalinya. Dia
berdalih melakukan semuanya sebagai tindakan protektif terhadap hubungan kami,
tapi bagi saya itu tindakan yang berlebihan dan sok mengatur. Seperti yang
bakal kau tebak, hubungan kami pun harus terhenti sampai di situ. Padahal
sebelumnya kami sudah sama-sama mendaftarkan masuk ke perguruan tinggi yang
sama dengan alas an bisa terus bersama. Tapi semua cerita kami sepertinya harus
berlalu lebih cepat sebelum tahun perkuliahan dimulai.
Semua itu kemudian menjadi alasan
mengapa saya seperti tertutup terkait urusan cinta. Bukan karena saya tidak mau
tapi saya hanya ingin member sedikit ruang untuk memahami wanita lebih dekat.
Saya piker dulunya saya egois, terlalu idealis hingga mengharapkan mencintai
seorang wanita yang sempurna. Tapi saya keliru, bukankah setiap individu punya
kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Saya terlalu banyak menuntut
kesempurnaan tanpa pernah belajar untuk mecintai sedikit kekurangan. Semasa
kuliah itu pula saya jadikan momentum untuk belajar merajut esok, mengejar
cita-cita saya. Karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa saya lakukan kala
itu. Bukan pula karena saya takut kembali membangun cinta karena luka lama
pengalaman hari kemarin, tapi karena saya ingin memberi ruang antara  saat dimana saya merasakan rumitnya cinta
monyet, lalu menikmati kesendirian dan belajar tentang hari esok. Saya ingin
belajar mencintai seorang wanita apa adanya, sebagaimana ia mencintai saya apa
adanya, lalu kami akan saling melengkapi. Ya, seperti itulah banyangan saya
tentang cinta yang dewasa, karena hal terindah dari cinta adalah cinta itu
sendiri. Cinta banyak member tanpa harus menerima, banyak berkorban tanpa
banyak menuntut. Karena bila sudah sampai pada tahap ini, saya ingin mencintai
wanita itu, mencintai dia selamanya. Dan Tuhan memang adil.  Penantian saya itu pun terbayar lunas. Saya
kini bisa memiliki dan mencintai seorang wanita seperti istri saya kini. Ketika
kami telah menikah, saya pikir saya telah benar-benar memahami wanita dan
menang atas pergulatan bathin selama kuliah dulu” ujar Yodi dengan senyum
khasnya.
“Jadi kini kau telah memahami wanita?”
tanya temannya penasaran.
“Saya tak berpikir demikian. Saya
bisa kembali menemukan gairah hidup dalam cinta karena saya kembali membangun
puing-puing harapan atas nama cinta. Tapi satu yang terpenting, kini saya
memiliki seorang istri yang benar-benar saya cintai dan yang mencintai saya
serta ibu yang baik bagi anak-anak kami.”tutup Yodi singkat.
Yogyakarta, 13 Juni 2011
Karena wanita ingin dimengerti…
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Related Posts

Leave a Reply