Aku (Dia) dan Yogyakarta

 Cermin, Sastra
   Yogyakarta, bagaimana bisa aku melupakanmu? Aku pernah berada di beranda rumah ibumu ketika rinai gerimis mengguyur kota kala itu. Aku memandangmu dalam-dalam, dengan mata yang menyimpan pesan bahagia. Di sini, kau mengubah banyak hal menjadi keindahan dan keajaiban yang tak bisa aku ukur.
  Beberapa pertemuan sempat mekar dan berbunga di sini. Beberapa lainnya pergi dan menghilang seperti petang di depan Vredeburg. Dan aku jatuh cinta pada pesonamu, pada cerita yang membuatmu besar seperti saat ini. Cerita yang membuatmu tetap menjadi diri sendiri, berdiri dengan keagungan yang nyaris sempurna.
Tugu Yogyakarta
Tugu Yogyakarta
     
  Dan suatu ketika, bila jarak membagi tatapan dan rindu diantara kita, aku akan kembali menulis beberapa baris cerita, kenangan tentang aku (dia) dan Yogyakarta. Mungkin sekedar mengingat hari-hari bahagia bersamamu, lewati musim-musim di sini, mengukur rindu antara kotamu dan ibu segala panorama pulau biru di tepian selatan. Mungkin demikian, abadilah kita.

                                                            * * * * * * * *

Yogyakarta, 16 Maret 2013
Kepada segala terang kota ini…

img src = di sini

Related Posts

Leave a Reply