Kamar Merah – Cerita Mini

 Cermin, Sastra
Aku adalah cerita tentang malam
Pilihan-pilihan hitam yang kelam
Usai nur-ku lusuh suram, temaram
Diam dalam dosa yang legam
———————————————————————————————————-
Alex, aku merindukanmu. Ini bulan Agustus, genap  dua bulan sudah semenjak perpisahan kita subuh itu. Kau beranjak pergi setelah menerima telepon dari Ida, adik iparmu. Jaga dirimu, begitu ujarmu singkat sebelum kau pergi dan hilang bersama Tiger-mu di ujung tikungan itu. 
Kusadari cinta ini begitu terlarang untuk kita jalani. Tapi kita terlanjur jatuh dalam pelukan cinta yang buta ini. Dua tahun membiarkan cinta ini hidup dalam kegelapan.
Cinta telah membutakan segalanya, bahkan mata hati kita. Dan tragisnya, kita begitu menikmatinya tanpa beban dosa. Menikmati indah cinta gelap ini, cinta yang terlarang. Tetapi lebih berdosanya lagi, aku merebut cintamu dari seorang wanita yang telah mengikat janji suci bersamamu. Aku wanita yang tak tahu diri. Terkutuk !
Akh…tak seharusnya aku terus hidup dalam bayangan ketakutan akan kehilanganmu. Toh..semua ini adalah resiko yang harus siap aku terima dengan tegar hati. Ini hanya masalah waktu. Aku harus membiasakan diriku untuk siap dengan segala keadaan dan tantangan, bila tidak hari ini ya berarti besok…esok…dan….siapa bisa pernah menebak apa yang bakal selanjutnya – aku pun tak tahu. Tetapi akhirnya datang hari itu juga. Kita berpisah. Ketakutan itu benar-benar menyelimuti perasaanku. Dua tahun cukup untuk membawaku dalam perasaan cinta yang mendalam terhadapmu; perasaan cinta, rindu dan takut kehilangan dirimu – semua membaur dalam aroma cinta yang buta, cinta terlarang kita.
Aku terlanjur terbuai dengan cinta yang semu, walau tahu kau pria beristri, masih saja aku terlena dalam pelukan hangat kegelapan cintamu. Aku bodoh. Wanita terbodoh di dunia. Tak tahu diri. Biar kuumpat sendiri diriku, menyesal dengan semua yang telah terjadi.
Alex, ranjang ini masih membekaskan kehangatan tubuhmu. Bahkan wangi parfummu masih segar menyengat, membangkitkan kerinduanku yang kian menggebu pada bayanganmu. Ya, hanya itu yang tersisa darimu dan kenangan kita di kamar kecil ini. Kamar gelap dengan temaram lampu merah, di sana ada kegairahan cinta kita, ada juga nikmat dosa kita, bersembunyi dibalik cinta yang gelap, cinta sesaat kita.
Aku bodoh pernah membiarkanmu menjamah kehidupanku yang paling intim. Lebih bodohnya lagi, aku mau saja mencintaimu walau tahu kau sudah memiliki seorang istri sah, wanita yang telah berikrar sehidup semati denganmu dalam untung maupun malang. Kau akan datang padaku ketika jenuh di rumah. Aku tak lebih dari gundik cinta gelapmu.
Nyatanya, kita sama-sama memiliki perasaan yang sama. Tidur seranjang atas nama cinta. Kita sama-sama menikmati dosa itu, bermain-main dengan api waktu yang bisa saja membakar kita kapan saja. Dan pada akhirnya api itu benar-benar membesar dan aku terbakar di dalamnya. Terbakar dalam api kebodohan yang kuciptakan sendiri. Bukan aku sendiri, tetapi kita Alex, kita berdua yang telah menciptakan api itu dan kau pun bertanggungjawab  atas semua ini.
Alex, dimakakah kau kini? Aku merindukanmu. Aku tahu, kau kini sedang bahagia. Begitu bahagia. Kau pernah bilang istrimu akan melahirkan akan pertama kalian. Setelah enam tahun menikah, kalian akhirnya punya anak. Aku semakin cemburu ketika kau bilang akan semakin menyayanginya dan menjadi ayah yang baik bagi keluarga kecilmu yang baru itu.
Ya…mungkin itu alasanmu untuk tidak lagi kembali ke sini. Ke kamar gelap dengan lampu merah yang temaram, ada cinta gelap di sana, bermain-main dalam birahi api yang nista. Tapi dosakah aku bila akhirnya cinta padamu? 
Aku pernah berdoa di suatu pagi, ketika tersadar kau tak lagi tidur di ranjang ini, beri kehangatan malam-malam kita. Aku berdoa, tapi aku sendiri tidak yakin, apakah Tuhan sudi mendengar doaku? Aku wanita berdosa, wanita jalang yang telah merebut cinta suci wanita lain. Tapi aku tahu, Tuhan pasti dengar doaku. Ya sebatas mendengar saja tanpa bisa mengabulkan doaku. Dan aku tersesat, sekali lagi, dalam nikmat belantara dosa yang kelam.
Alex, dimanakah kau kini? Aku merindukanmu. Cepatlah kau pulang. Subuh kemarin sebelum kau pergi, ingin kusampaikan pesan bahagia ini, aku juga kini mengandung anaku, ya anak kita, darah daging kita, buah cinta kita – dari cinta gelap kita. Cepat pulang Alex, cepatlah kau pulang. Dia di sini juga merindukanmu, merindukan rupa ayahnya. 
Alex, dimanakah kau kini? Kami merindukanmu pulang. Kembali ke sini lagi, kamar gelap dengan lampu merah yang temaram, di sana ada cinta gelap kita. Kelak di sana pula anak kita akan lahir, dalam gelap temaram lampu merah. Hanya aku sendiri dan wangi parfummu yang masih menemani sepiku, menunggu kelahirannya, buah cinta gelap kita dalam temaram kamar merah, kamar dosa kita.
                                             ***
Jogja, 27 Januari 2012
Cinta di kamar merah…

Related Posts

Leave a Reply