Mencari Oase Yang Hilang

Situs Judi Online Terpercaya

( POTRET BURAM KEHIDUPAN PARA PENARIK BECAK GEROBAK)

Ada saat di mana kita tertawa
Lalu datang duka dan rasa itu pun terbawa
Ada saat di mana kita merana, berderai air mata kecewa
Lalu datang suka dan mengisi setiap mimpi di jiwa

Pasar Nangka Bungor

                 Siang yang begitu menyengat. Jalanan menuju Pasar Nangka Bungor, Jakarta Pusat tampak begitu ramai. Setiap orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing seolah tak pernah peduli dengan terik matahari yang membakar kulit atau bau amis dari kali kecil yang tercemar limbah dan sampah-sampah yang berserakan di jalanan. Ada beberapa penarik becak gerobak dan motor becak. Masyarakat sekitar menyebut dua jenis kendaraan ini dengan istilah bego dan mobek(agak aneh juga namanya).

Pak Suwandi adalah satu dari begitu banyak penarik bego (becak gerobak, red) yang mencoba mencari keberuntungan di tengah pesatnya kemajuan kota Jakarta dengan menggantungkan hidup dari kendaraan yang nota benenya sudah dilarang Pemda DKI Jakarta itu lewat Perda No. 11 Tahun 1988 ini. Saat ditemuai di rumahnya pak Dedy yang berukuran kecil (teman seprofesi dengannya), Pak Suwandi bertutur banyak tentang kesehariannya sebagai seorang penarik bego, bagaimana suka dan dukanya selama menjalankan pekerjaannya ini.
“Bukannya kita mau ngelawan Pemda tapi begitulah mas, kita harus tetap kerja biar bisa makan” ujarnya dengan dialek Betawi yang kental seraya menarik rokok Sampoerna. Pria kelahiran Jakarta, 11 November 1950 ini
menambahkan, tak mudah menjadi seorang penarik
bego, karena tiap menit bisa saja dirazia petugas kamtib(keamanan dan ketertiban), jadi harus serba hati-hati.

Pak Suwandi (tengah) bersama para kolega-nya

 “Bandingkan dulu sama sekarang, kayaknya dulu tuh lebih enak. Aku saja punya becak ampe lima tapi sekarang tinggal satu saja. Maklum mas, dua becakku dirazia petugas ama tiga lainnya udah dijual dan sekarang beli satu lagi” katanya pelan sembari tertawa kecil lalu kembali menarik rokoknya lagi.

 
Hidup di tengah lingkungan yang keras memaksa Pak Suwandi dan teman-temannya sesama penarik bego untuk terus giat bekerja demi mendapatkan sesuap nasi bagi anak dan istri yang senantiasa setia menanti kepulangan mereka di rumah.
Selain sebagai penarik becak gerobak, Pak Suwandi adalah
seorang mantan pekerja di Percetakan Negara, di daerah Salemba.”Ya sekarang nggak kerja lagi di percetakan soalnya mata udah mulai rabun” tambahnya lagi.

Hilang Harapan Hidup
Penarik becak gerobak di Pasar Nangka Bungor

Sejak pengoperasiaan becak bermotor dilarang Pemda DKI Jakarta Pak Suwandi seperti kehilangan harapan hidup. Namun demi mendapatkan uang yang cukup buat makan sehari-hari Pak Suwandi rela bekerja dari jam 04.0WIB dini hari hingga larut malam walau itu harus melanggar Perda.”Ya beruntung kalau tidak ada razia dari petugas tapi kalau ada bisa-bisa kita kehilangan modal Rp500.000. Biasanya parkir di depan rumah aja diambil petugas, apalagi ketemu di jalan protokol. Jadi sekarang kita cuma beroperasi di dalam pasar. Nggak bisa keluar apalagi ampe Senen. Pemerintah seperti pro sama mereka yang berduit. Mau gimana lagi kalau udah kayak gitu, buntut-buntutnya kan rakyat juga yang sengsara” ujar ayah dari lima orang anak ini menambahkan. Pak Suwandi hanya bisa berharap agar pemerintah bisa memperhatikan nasib rakyat kecil seperti mereka dan bukannya membebankan hidup mereka dengan aturan-aturan yang jelas membatasi ruang mereka dalam mencari nafkah. Semoga esok mereka lebih baik dari hari ini.

Mobek

                      * * *
Jogja, 14 Februari 2011
Untuk mereka yang masih tersisih di negeri ini.

Koleksi foto by Veny

*Artikel ini saya buat kala mengikuti pelatihan jurnalistik di Jakarta setelah sebelumnya mengadakan peliputan di wilayah pasar Nangka Bangor, Jakarta.

Life must go on. Be strong and never give up. Hidup terus berjalan. Tetap kuat dan pantang menyerah. By : Denny Neonnub

Situs Judi Online Terpercaya

Reply