Pendidikan = Pendudukan ?

Situs Judi Online Terpercaya

Jika kita melayani, maka hidup akan lebih berarti
(John Gardne)
Citra lembaga pendidikan di tanah air kita kini sedang diuji guna pembenahan diri menjadi lebih baik lagi pada tahun-tahun yang akan datang. Mutu pendidikan yang baik menjadi cermin kesuksesan pembangunan sumber daya manusia dalam negeri tersebut.
Jangan curi keceriaan dari dunia kami
Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan wajah pendidikan di negeri kita saat ini. Mungkin menyedihkan atau lebih tepatnya memprihatinkan. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi awal pembentukkan manusia-manusia muda yang berkualitas dan berpendidikan kini seolah telah kehilangan arah dalam melangkah, jauh dari harapan bersama. 

               Pendidikan telah kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhurnya sebagai lembaga yang mendidik dan membangun citra generasi-generasi muda yang handal. Kekerasan dalam pendidikan telah meruntuhkan dan mengikis semua nilai-nilai luhur nan mulia dari pendidikan itu sendiri. 

                 Komnas Perlindungan Anak mencatat telah terjadi kekerasan terhadap anak selama tahun 2009 sebanyak 1.998 yang sebagian besar terjadi dalam lingkungan pendidikan. Kasus kekerasan ini terus meningkat dibandingkan tahun 2008 yang terjadi sebanyak 1.736 kasus(Kompas, 12/02/2010). Hal ini tentu sangat memprihatinkan karena telah mencoreng citra lembaga pendidikan di Indonesia dan melumpuhkan ambisi pendidikan untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Pendidikan = Pendudukan?
               Sejatinya pendidikan adalah memanusiakan manusia, menjadikan yang dulunya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya “buta” bisa sedikit mendapatkan “terang” dalam hidupnya. Pendidikan harus menjadi media yang benar-benar aktif dan kreatif dalam menata serta menempa setiap peserta didiknya agar bisa menjadi pribadi-pribadi yang kelak dapat membangun tatanan bangsanya sesuai perannya masing-masing. Kekerasan dalam pendidikan dapat dibagi menjadi dua secara umum yakni kekerasan secara fisik (pemukulan, penganiayaan, pemerasan) dan kekerasan secara psikis yang lebih berupa berbagai kebijakan yang lebih memberatkan para siswa seperti kebijakan Ujian Nasional. 

              Berbagai kebijakan dengan dalih ingin meningkatkan kualitas pendidikan justru malah menciptakan ketakutan dan trauma besar bagi para insan pendidikan entah itu para pendidik maupun mereka yang dididik. Dalih ingin meningkatkan kualitas dengan menaikkan nilai standar kelulusan tanpa diikuti dengan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan mulai dari sarana penunjang pendidikan hingga peningkatan mutu tenaga pendidik hanya akan menciptakan permainan baru penuh kecurangan dalam Ujian Nasional seperti yang terjadi pada tahun-tahun kemarin. Ujian Nasional telah menjadi satu ketakutan besar bagi para siswa karena masa pendidikan selama tiga tahun hanya diukur dalam ujian selama sepekan itu. Hal ini pula yang menjadi alas an mengapa para siswa belajar bukan untuk masa depannya tetapi lebih karena ingin mendapatkan nilai baik sewaktu ujian. Maka tidak mengherankan bila setelah tamat nanti banyak bahan pelajaran yang dilupakan. Inilah salah satu bentuk kekerasan psikis dalam pendidikan yang telah merusak mental peserta didik.         

             Apapun itu bentuknya, kekerasan dalam pendidikan telah menciptakan jurang besar bagi masa depan generasi-generasi muda yang sedianya disiapkan sebagai penerus kelangsungan bangsa ini. Bukan tidak mungkin mereka tumbuh dalam lingkungan kekerasan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang keras ala premanisme dan bermental bobrok. Kekerasan bukanlah solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan juga bukanlah cara-cara yang tepat guna mencapai tujuan dari pendidikan tersebut. Sering pelaku kekerasan itu adalah para guru, sosok yang seharusnya menjadi panutan para murid. Namun lebih memprihatinkan lagi bila kekerasan itu malah dilakukan para senior terhadap para yunior yang berbuntut pada semacam tradisi penjajahan dan balas dendam tiap angkatan atau generasi. Di sini hukum hutan rimba berlaku, yang kuat yang menang. Jika kekerasan adalah solusi terbaik dalam peningkatan pendidikan maka sebenarnya wajah pendidikan telah tercoreng karena pendidikan itu tidak lebih daripada sebuah pendudukan atau penjajahan yang tersistematis. Sebuah pendudukan yang bisa dengan leluasa menerapkan berbagai cara guna mencapai tujuannya meskipun itu harus dengan kekerasan. 

           Tentu kita semua tidak menginginkan hal seperti ini terjadi dan merusak wajah lembaga pendidikan kita. Pendidikan selain sebagai media pembekalan ilmu juga harus bisa menjadi pelayan bagi para peserta didik bukannya menjadi penjajah yang kejam. Tegas berbeda jauh dengan kejam. Tegas itu mantap dalam kebijaksana sedangkan kejam itu keras dalam kesewenang-wenangan yang dimiliki. Keras bukan berarti harus dengan kekerasan namun dengan cara-cara yang karikatif.

Membangun Pendidikan
                Setiap orang sejak dalam kandungan ibunya telah disiapkan untuk kelak bisa berbakti pada orang tua dan bangsanya. Dari keluarga seorang manusia diajarkan berbagai hal-hal yang sifatnya mendasar mulai dari berbicara, bagaimana cara makan, berpakaian hingga bagaimana saling menghargai dalam hidup. Karena dirasa belum cukup, lembaga pendidikan menjadi alternatif sebagai pelanjut pendidikan dalam keluarga tersebut. Tentu pendidikan bukanlah sebuah formalitas belaka guna menjawab tantangan globalisasi abad ini dan sebagai media pembasmi buta huruf yang dapat menghambat pembentukkan pribadi dan kemajuan bangsa. Namun lebih dari itu pendidikan harus menjadi partner dalam pembangunan bangsa dengan giat mendidik para generasi muda sehingga kelak mereka siap dalam dunia kerja nyata dengan berbekal kematangan mental dan intelektual serta ketrampilan yang memadai. 

                Membangun wajah pendidikan ke arah yang lebih baik adalah tanggung jawab bersama bukannya saling melempar tugas dan tangung jawab itu sendiri. Pendidikan harus bisa menjadi mata air yang jernih bagi setiap insan yang haus akan pendidikan. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu memanusiakan manusia sebagai bentuk pembentukkan karakter yang berpendidikan dan bermoral. Sudah saatnya kita membangun pendididikan dengan satu semangat kasih sayang bukannya kekerasan. 
              Mengutip apa yang dikatakan oleh Mother Theresia, Tuhan tidak meminta kita untuk sukses; Dia hanya meminta kita untuk mencoba :God doesn’t require us to succeed; he only requires that you try. Maka tidak ada salahnya bila kita kembali pada penerapan nilai-nilai luhur pendidikan dan terus berusaha memajukan wajah pendidikan di tanah air kita. Sukses masa depan lembaga pendidikan dan bangsa ini semuanya tergantung pada kita.

Refleksi Bersama
            Pendidikan telah menjadi rumah sekaligus keluarga bagi setiap mereka yang menuntun ilmu. Beragam hal yang diajarkan mulai dari pengetahuan umum hingga pendidikan moral dan agama diberikan dalam lingkungan pendidikan agar para siswa dapat tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan yang siap memajukan bangsa ini dan siap pula untuk bersaing dengan bangsa lainnya dalam kanca dunia. Bercermin dari perkembangan kasus kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan pendidikan yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan maka sudah saatnya bersama kita merefleksikan semuanya ini. 

               Tentu ada yang salah dengan sistem pendidikan kita dewasa ini. Dunia pendidikan perlu berbenah diri, merangkul berbagai pihak mulai dari keluarga, masyarakat dan pemerintah. Untuk bersama-sama berkomitmen membangun wajah baru pendidikan Indonesia yang benar-benar bebas dari kekerasan(penuh kasih sayang), komunikatif dan membangun. Hendaknya pendidikan bercermin pada pepatah Latin yang satu ini “Homo admiranda et amanda ; menjadi manusia yang pantas dicintai dan layak dikagumi”. Semoga citra pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi ke depannya nanti.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. by Denny Neonnub

                                                    * * *
Jogja, 24 Februari 2011
Sebuah catatan liburan
*Dari berbagai sumber ! 
Foto by Harno Bosko
Situs Judi Online Terpercaya

Reply