Peran ASEAN Regional Forum terkait isu-isu keamanan non-tradisional pasca Perang Dingin Part I

Situs Judi Online Terpercaya

Lambang ASEAN

            
 1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

Pasca berakhirnya Perang Dingin yang melibatkan dua blok besar, antara Blok Barat yang dikepalai Amerika Serikat yang berhaluan liberal dan Blok Timur yang diketuai Uni Soviet yang berpandangan komunis menjadikan tatanan dunia ikut berubah. Serentak sistem internasional yang pada awalnya bipolar berubah menjadi multipolar. Selain itu pula terjadi pergeseran isu-isu internasional menjadi lebih kompleks. Bila pada Perang Dingin yang juga menjadi perang ideologi antara dua negara adikuasa, Amerika Serikat dan Uni Soviet  tersebut  lebih didominasi oleh  isu-isu keamanan tradisional ( konvensional ) yang bernuansa militer namun kini mengarah pada isu-isu keamanan non-tradisional (non-konvensional). Persaingan ekonomi guna mengejar kesejahteraan masyarakat, masalah lingkungan hidup, hak asasi manusia, terorisme hingga pada masalah feminisme yang menjadi isu-isu baru pasca berakhirnya Perang Dingin tersebut. Berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya rezim komunis Uni Soviet, melahirkan kembali harapan masyarakat internasional akan terciptanya perdamaian dunia dan fokus pada pembangunan ekonomi serta mengatasi masalah-masalah lainnya ketimbang persaingan ideologi dan militer.

            Isu-isu keamanan non-tradisional tersebut dirasakan pula negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. ASEAN (Association of South East Asia Nations) sebagai organisasi tingkat regional, yang  pada awal mula dibentuk dengan maksud untuk membina kerja sama antarnegara di Asia Tenggara sekaligus menjadi tameng bagi aliran komunisme itu kini perlahan mulai memfokuskan perhatian pada isu-isu keamanan non-tradisional pasca berakhirnya Perang Dingin. Seperti masyarakat internasional pada umumnya yang dahulunya lebih fokus pada isu-isu high politics (isu politik dan keamanan) dan mulai bergeser pada isu-isu low politics seperti hak asasi manusia, ekonomi, masalah lingkungan hidup dan juga terorisme yang sudah dipandang sama urgennya dengan isu high politics. Untuk mengatasi masalah tersebut maka ASEAN kemudian membentuk sebuah forum kerja sama yang disebut ASEAN Regional Forum dalam menjaga keamanan di kawasan Asia Tenggara bersama dengan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik dan juga negara-negara yang punya kepentingan dengan ASEAN seperti Amerika Serikat, Jepang, Republik Rakyat China, Rusia dan Uni Eropa.
           

Berdasarkan uraian masalah tersebut, penulis tertarik untuk membahas masalah isu-isu keamanan non-tradisional pasca Perang Dingin yang menjadi masalah di kawasan Asia Tenggara berkaitan dengan peran ASEAN sebagai organisasi regional dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Penjelasan mengenai masalah tersebut akan dipaparkan pada bagian pembahasan.
1.2 Rumusan Masalah
            Masalah keamanan non-tradisional pasca berakhirnya Perang Dingin menjadi perhatian besar bagi dunia. Peran ASEAN sangat dituntut dalam menangani semua problematika keamanan tersebut guna pencapaian kawasan Asia Tenggara yang damai dan sejahtera sebagaiman cita-cita awal berdirinya ASEAN. Adapun rumusan masalahnya berdasarkan masalah tersebut yakni sebagai berikut :
1. Bagaimana peran ASEAN Regional Forum dalam mengatasi beragam isu keamanan non-tradisional pasca Perang Dingin bagi stablitas keamanan di kawasan Asia Tenggara?
Jawaban atas permasalah tersebut akan dijabarkan pada bagian pembahasan.
2. Pembahasan
 
2.1 Sejarah Berdirinya ASEAN
            ASEAN atau yang lebih dikenal dengan nama Association of South East Asia Nations pertama kali dikukuhkan oleh lima negara penggagas yakni  Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967. Proses pembentukan ASEAN atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dibuat dalam sebuah penandatanganan perjanjian yang kemudian dikenal dengan nama “Deklarasi Bangkok”. Adapun yang bertanda tangan pada Deklarasi Bangkok tersebut adalah para menteri luar negeri saat itu, yaitu Bapak Adam Malik (Indonesia), Narciso R. Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand).
Deklarasi Bangkok ini kemudian menjadi landasan organisasi ASEAN dalam berkiprah dalam kancah regional dan dunia internasional. Berikut isi dari Deklarasi Bangkok :
    * Mempercepat pertumubuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara
    * Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional
    * Meningkatkan kerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik,ilmu pengetahuan, dan administrasi
    * Memelihara kerjasama yang erat di tengah – tengah organisasi regional dan internasional yang ada
    * Meningkatkan kerjasama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara
            ASEAN yang dibentuk tersebut bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, serta memajukan perdamaian di tingkat regionalnya. Negara-negara anggota ASEAN mengadakan rapat umum setiap bulan November dalam setahun. Setelah tujuh belas tahun berdirinya ASEAN, pada tanggal 8 Januari 1984, seminggu setelah mencapai kemerdekaannya, negara Brunei masuk menjadi negara anggota ASEAN. Sebelas tahun kemudian setelah Brunei mencatatkan namanya sebagai negara anggota ASEAN yang keenam, tepatnya tanggal 28 Juli 1995 Vietnam ikut bergabung ke dalam ASEAN. Laos dan Myanmar menjadi anggota dua tahun kemudiannya, yaitu pada tanggal 23 Juli 1997. Walaupun Kamboja sudah menjadi anggota ASEAN bersama sama Myanmar dan Laos, Kamboja terpaksa menarik diri disebabkan masalah politik dalam negara tersebut. Namun, dua tahun kemudian Kamboja kembali masuk menjadi anggota ASEAN pada 30 April 1999.
Sebagai organisasi di kawasan Asia Tenggara, ASEAN memiliki beberapa prinsip pokok organisasi. Adapun prinsip-prinsip utama ASEAN digariskan seperti berikut:
    * Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara
    * Hak untuk setiap negara untuk memimpin kehadiran nasional bebas daripada campur tangan, subversif atau koersi pihak luar
    * Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota
    * Penyelesaian perbedaan atau perdebatan dengan damai
    * Menolak penggunaan kekuatan yang mematikan
    * Kerjasama efektif antara anggota
Prinsip-prinsip mendasar ini pulalah yang menjadi cikal bakal dibentuknya ASEAN Regional Forum (ARF) guna menjalin kerja sama keamanan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan juga negara lainnya yang memiliki kepentingan di kawasan Asia Tenggara. Asean Regional Forum merupakan satu-satunya forum di level pemerintahan yang dihadiri oleh seluruh negara-negara kuat di kawasan Asia Pasifik dan kawasan lain seperti Amerika Serikat, Republik Rakyat China, Jepang, Rusia dan Uni Eropa (UE). ARF menyepakati bawa konsep keamanan menyeluruh (comprehensive security) tidak hanya mencakup aspek-aspek militer dan isu keamanan tradisional namun juga terkait dengan aspek politik, ekonomi, sosial dan isu lainnya seperti isu keamanan non-tradisional.
2.2 Latar Belakang Lahirnya ASEAN Regional Forum
            ASEAN Regional Forum merupakan inisiatif negara-negara ASEAN guna mencari hubungan keseimbangan baru pasca berakhirnya Perang Dingin yang ditandai runtuhnya Tembok Berlin pada 8 November 1989 serta runtuhnya Uni Soviet atau Blok Timur. Serentak dengan itu kemudian kemunculan negara-negara besar dengan segala kekuatan yang bervariasi seperti Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan China yang berada di sekitar kawasan ASEAN merupakan faktor penting yang tak dapat dilepaskan dari perhatian para petinggi ASEAN saat itu. Oleh karenanya, ketika Pertemuan Kementerian ASEAN yang ke-26 yang dihelat di Singapura pada 23-25 Juli 1993 menyetujui untuk membangun suatu mekanisme kerja sama antara negara anggota ASEAN dengan para mitra dialognya yang berada di luar ASEAN. Walau begitu pada tahun 1992 konsep mengenai ASEAN Regional Forum (ARF) sudah diperkenalkan sebelumnya sebagai salah satu fungsi dalam mekanisme kerja ASEAN untuk meningkatkan kerja sama dan dialog mengenai masalah-masalah keamanan regional, terutama dengan semua partner dialog ASEAN semisal Amerika, Uni Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru, Rusia, dan Cina serta beberapa negara di kawasan Pasifik yang lain. Sejak berdiri pada tahun 1994, ASEAN Regional Forum sudah memiliki 27 negara anggota yang terdiri atas seluruh negara anggota ASEAN (Indonesia, Brunei
Darussalam, Kamboja, Laos, Vietnam, Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand, dan
Filipina), 10 negara Mitra Wicara ASEAN (Amerika Serikat, Kanada, China, India,
Jepang, Korea Selatan, Rusia, Selandia Baru, dan Uni Eropa) serta negara di kawasan
seperti Srilanka, Papua Nugini, Mongolia, Korea Utara, Pakistan, Bangladesh dan Timor-Leste. ASEAN Regional Forum menjadi kunci penyelesaian bagi beragam isu-isu keamanan non-tradisional pasca berakhirnya Perang Dingin.
Sebagai organisasi yang memegang peranan dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara pada khususnya dan keamanan dunia pada umumnya, ASEAN Regional Forum tentu memiliki pilar-pilar yang menjadi tujuannya.
Sebagai suatu wahana utama dalam mewujudkan tujuan ASEAN dalam menciptakan
dan menjaga stabilitas serta keharmonisan kawasan, ARF menetapkan dua tujuan
utama yang terdiri atas:
1. Mengembangkan dialog dan konsultasi konstruktif mengenai isu-isu politik dan
keamanan yang menjadi kepentingan dan perhatian bersama, dan
2. Memberikan kontribusi positif dalam berbagai upaya untuk mewujdkan
confidence building dan preventive diplomacy di kawasan Asia Pasifik.
Dalam Pertemuan Tingkat Meneri ke-27 ASEAN tahun 1994, para Menteri Luar Negeri
menyetujui “ARF could become an effective consultative Asia-Pacific Forum for
promoting open dialogue on political and security cooperation in the region. In this
context, ASEAN should work with its ARF partners to bring about a more predictable and
constructive pattern of relations in the Asia Pacific.”
Meskipun ARF masih relatif baru, namun ia telah menjadi kontributor yang berharga
bagi pemeliharaan harmoni dan stabilitas di kawasan Asia Pasifik. Kinerja ARF
dilengkapi oleh aktivitas Track 2 yang dilakukan oleh entitas non-pemerintah dalam
lingkup ARF.
Dalam menangani masalah yang timbul, pendekatan yang dianut oleh ARF bersifat evolusioner dan berlangsung dalam tiga
tahap besar, yaitu Confidence Building, Preventive Diplomacy dan Conflict Resolution.
Keputusan ARF harus diambil melalui suatu konsensus setelah melalui konsultasi yang
mendalam antar para peserta ARF. Baca lanjutannya di sini
                          
                                                                        * * *

Jogja, 21 Februari 2011, pada siang yang begitu panas

Sumber gambar by Deplu.go.id

Teruslah berjuang untuk hidup yang lebih baik. by : Denny Neonnub

Situs Judi Online Terpercaya

Reply