“Senja yang ternoda”

Situs Judi Online Terpercaya
Ketika keindahan cinta mengetuk kalbu
Laksana keindahan kasih sayang seorang ibu
Biarkan cinta itu tentram berlabuh
Hingga kita kembali kekal dalam debu
                                                                                ***

Tanjung Bastian, dalam buaian senja kenangan dan kehilangan. Aku duduk sendiri menatap lekat lembayung senja yang kian merona itu, keindahan yang sejenak hilang dari hidupku namun kini kembali mempesona nyata di depanku. Bayangan kenangan aku dan kota ini enam tahun yang lalu kembali menari-nari dalam benakku. Kota ini telah membekaskan banyak kenangan yang takkan pernah kulupakan, tentang pantainya yang indah, cerita masa kecil yang penuh canda tawa hingga Karina, cinta pertamaku waktu SMP dulu, walau oleh kebanyakan orang dibilang cinta monyet, tapi kami tak pernah peduli. Toh mereka juga tidak akan pernah mengerti, hakikat cinta yang diukur dengan hati, rasa dan jiwa. Akh…semuanya terdengar begitu konyol namun guratkan kerinduan yang besar untuk kembali dikenang.

Di pantai ini cinta pertamaku terukir, satu nama indah terlukis abadi di hati, Angelica Karina. Dia gadis pertama yang menyentuh hatiku dengan kasih sayang, mengubah dunia remajaku menjadi kemilau pelangi, malaikat kecil yang selalu menghiasi tiap mimpiku dengan senyum terindahnya, mengajarkanku cinta seindah taburan bintang, pesona dan misteri malam yang akan terus jadi cerita setiap generasi zaman. Kupikir semua keindahan ini akan berakhir sempurna, sama seperti  mimpi-mimpiku dulu. Tapi guratan takdir berkata sebaliknya. Tuhan punya rencana lain yang telah Ia siapkan jauh sebelum aku terbentuk dalam rahim ibuku. Ketakutan itu  akhirnya benar-benar terjadi. Setelah aku lulus SMA, ayah dipindahtugaskan ke Kalimantan. Di pantai ini pula, kata pisah dengan serak keluar terbata terbungkus air mata kepedihan, perpisahan dan kehilangan. Pantai dan senja itu jadi pigura bisu cinta yang harus terpisah jarak dan waktu, walau keyakinan kembali dibangun namun esok tak pernah bisa ditebak. Kami berpisah tanpa sepakat ada kata putus di antara kami. Tahun pertama, kedua dan ketiga kami masih saling memberi kabar. Namun memasuki tahun-tahun berikutnya, cinta yang lama terjalin harus mengambang tak tahu arah. Entah siapa yang memulai duluan, namun akhirnya hubungan itu menggantung tak jelas. Akh…Karina, masa lalu yang hilang, mengenangmu hanya kan goreskan luka lama.
“Hey Rey…”sapa seseorang dari belakangku, membuyarkan lamunanku. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang tak karuan. Sepertinya kukenal suara itu, suara merdu yang pernah bisikan keindahan dan kedamaian di hati. Tidak salah lagi. Di depanku berdiri Karina, gadis yang pernah mengisi hari-hari panjang dalam hidupku dengan kasih dan cintanya. Dia semakin cantik di usianya sekarang, pesona yang mengalahkan keindahan pantai Tanjung Bastian. “Hey…kok ngelamun terus”ujarnya pelan sembari tersenyum kecil memperhatikanku yang sedikit kikuk bercampur grogi.
“Karina ya?”tanyaku penasaran sekedar memastikan.
“Iya…masa gak ingat. Hehehehe…”ucapnya berjalan mendekati menyalamiku lalu duduk persis di sebelahku.
“Kamu tampak berbeda dengan Karina yang dulu kukenal”ujarku lagi dengan santai coba rilekskan suasana.
“Hehehe…gak juga”
“Iya…sumpah, aku tadi sampai gak percaya kalau kamu itu Karina. Tahu dari siapa aku lagi di sini”
“Cuma nebak aja”katanya sambil tersenyum kecil. Akh…senyum manis indah itu akhirnya bisa kulihat lagi setelah perpisahan kala itu. Dia masih seperti yang dulu, Karina yang selalu ceria dan murah senyum.
“Oh ya…”balasku sambil tersenyum.
“Hehehehe…tadi aku diberitahu sama Jose kalau ada surprise. Katanya special banget. Trus dia ngantarin aku ke sini. Eh tahu-tahunya surprise-nya tuh kamu. Aku sampai kaget gak nyangka kamu bakalan balik lagi ke sini. Gak nyangka ya kita bisa ketemuan lagi.”
“Hehehehe…dasar Jose. Aku juga gak nyangka kita bisa kembali bertemu. Terus Jose-nya sekarang dimana?”
“Udah balik. Katanya gak mau ganggu. Oh ya gimana kabar keluarga kamu di Kalimantan?”tanyanya basa-basi.
“Semua baik-baik saja. Cuma adikku Radit yang sudah menikah dan punya satu jagoan kecil. Gimana sama keluarga kamu?”
“Puji Tuhan semuanya baik-baik aja. Oh ya tadi kamu bilang Radit udah berkeluarga. Berarti….”
“Hehehehe…iya aku ngerti. Aku belum menikah kok. Seharusnya sebagai kakak, aku yang menikah duluan barulah Radit. Tata caranya gitu kan?”
“Terus kenapa kamu belum menikah?”tanya Karina pelan dengan  suara yang sedikit tertahan.
Kutatap matanya dalam-dalam, menjelajahi kegundahan hatinya yang terpancar dari matanya yang indah itu.
“Aku mencintai seorang gadis, sejak hati ini mulai belajar arti cinta yang sesungguhnya. Dia sudah seperti malaikat kecil dalam hidupku, memberi secercah harapan kala mimpi tak lagi sejalan kenyataan. Kupikir keindahan yang dia berikan akan terus ia berikan walau pada setapak ini kami tak lagi sepayung. Namun aku keliru, terlalu naïf untuk berharap bisa terus dicintai gadis sesempurna dia. Mungkin Tuhan punya rencana lain, ataukah kami yang terus  saling menjauhkan diri tanpa pernah lagi peduli satu sama lain seperti dulu, menjadikan segalanya serba rumit untuk dijalani. Cinta yang dulu pernah bertakhta di hati ini, kini tak tahu siapa yang punya. Dalam doaku masih terbesit kerinduan untuk kembali bersua dengan malaikat kecilku itu, walau mungkin dia kini ada dalam pelukan yang lain”ucapku lirih sembari menarik napas lalu kembali menatapnya. Sejenak ia tertegun seperti kaku dengan keadaan lalu mengalihkan tatapannya ke arah pantai. Ia tak berani membalas tatapan mataku.
“Tapi itu tidak adil bagi malaikat kecil yang harus menanti dan terus menanti tanpa pernah ada kepastian dari orang yang dia sayang. Siang dan malam malaikat kecil itu terus berdoa agar kelak dapat dipersatukan lagi dengan kekasih hatinya namun Tuhan sepertinya tuli, semua berakhir sia-sia belaka saja. ”balas Karina dengan mata berkaca-kaca.
“Bagaimana kemudian bila kekasih hati malaikat kecil itu kembali lagi. Mereka bertemu pada tempat awal liku kisah cinta mereka dimulai. Tempat yang menyisakan suka sekaligus duka di hati. Masihkah ada tempat di relung hati malaikat kecil itu untuk kekasih hatinya yang pernah pergi dan kini hadir kembali???”serangku lagi sambil menatapnya.
“Namun semua percuma saja. Bagaimana bila malaikat kecilnya tak lagi seperti dulu? Ketika kesetiaan malaikat kecil itu goyah, mungkin itu akhir dari penantiannya yang panjang pada sesosok bayangan keindahan yang telah memberikan semua cintanya namun tak pernah kunjung kembali. Bulan depan, bersama mentari pagi malaikat kecil itu akan bersanding di pelaminan. Penantian yang panjang terbayar kekecewaan yang mungkin akan terus dibawah hingga ajal. Maaf Rey, aku kini milik yang lain. Kemarin adalah milik kita namun besok tak lagi jadi milik kita. Semua sudah terlambat, taka da lagi yang perlu kita sesali”ujarnya lirih. Karina tak bisa lagi membendung air matanya. Masih kudengar ia terisak kecil sebelum akhirnya berlari meninggalkanku.
“Karina…Karina..!!!”teriakku semampunya. Kini semua jelas sudah. Akh…Karina, katamu semuanya sudah terlambat atau kau yang membuat segalanya menjadi begitu cepat terjadi, hingga sulit bagiku menerima kenyataan pahit ini. Kupikir semua penantian dan kesetian ini akan berakhir bahagia. Aku keliru. Karina…mengapa kau pergi dari sisiku ketika kini aku telah kembali ada di sini untukmu. Bukankah kerinduan seperti ini yang selama ini terus mengganjal hari-hari panjang dalam hitungan bulan dan tahun sejak perpisahan kita. Aku kembali lagi ke kota ini dengan seribu asa yang kembali bangkit setelah sekian lama terkubur dalam kesendirianku, namun kau rusak semua mimpi itu hanya dalam satu kedipan mata. Hanya karena kini kau sudah jadi milik orang lain bukan berarti aku harus berhenti mencintaimu walau cintamu tak pernah untukku lagi. Kuputuskan berlari mengejar dia.
“Rey…tunggu”teriak Jose dari belakang. Ia berlari menghampiriku.
“Apa yang sudah kamu perbuat terhadap Karina sampai dia menangis seperti itu?”
“Jose, aku tidak punya waktu untuk jelaskan sekarang. Jadi tolong biarkan ku selesaikan masalahku dulu. Aku cabut dulu”
“Tapi kamu mau kemana? Rumahnya? Jangan, itu hanya akan memperkeruh suasana apalagi tunangannya ada di sana”ucap Jose gusar.
“Aku tahu kemana aku harus pergi mencari dia.”
“Dimana???”
“Aku pergi dulu”ujarku singkat sambil berlari meninggalkan Jose yang masih dihantui tanda tanya.
Senja yang ternoda
Kuperlambat langkah kakiku berjalan pelan ketika mendekati kapela tua peninggalan Belanda yang berada di ujung jalan menuju pelabuhan. Di sana, di bawah samar-samar cahaya lampu kapela, Karina berlutut tertegun khusuk dalam doanya. Kuputuskan menunggunya di bangku belakang. Air mata mengucur membasahi pipi manisnya. Rosario yang digenggamnya ikut basah karena linangan air matanya. Aku tahu kapela tua ini selalu menjadi tempat “pelarian” bagi dia untuk membagi semua suka dan duka bersama Tuhan. Karina telah mengajarkanku banyak hal, tentang mencintai dan bersyukur, pengorbanan tanpa batas dan segala hal yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Tidak salah bila ia kuanggap malaikat kecil yang Tuhan kirimkan khusus untukku. Tapi esok, di kapela ini, malaikat kecilku itu akan bersanding dengan dia yang lain, berikrar sehidup semati dalam cinta. Akh….Tuhan, apa salah dan dosaku hingga semua kepedihan ini harus menggores sukma. Bila ini rencana terindah-Mu, biarlah hamba-Mu berpasrah dalam Nama dan Kuasa-Mu.
“Rey…maafkan aku”suara lembutnya mengagetkan aku yang sedang bergulat dalam dilemma dan prahara hingga tidak menyadari kedataangannya. Ia menatapku dalam sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya dalam pelukan hangatku. Air matanya mengucur kian deras membasahi bajuku.
“Rey, enam tahun aku menunggumu di sini tanpa pernah ada kepastian darimu. Kupikir kau telah melupakan semua cita dan mimpi yang kita bangun atas nama cinta. Aku terlalu mencintaimu sehingga lupa untuk belajar bagaimana  kehilangan dan rasanya sakit hati. Ketika esok aku harus mengalami semua itu, aku takut bila sakitnya kian menyiksa jiwa. Hari ini kau kembali namun kita tak bisa seperti yang dulu lewati hari bersama hingga ajal memisahkan kita. Tapi bila kau izinkan, aku ingin tinggal dalam hati dan mimpimu selamanya. Cintaku selamanya untukmu.”bisiknya pelan berderai air mata kepedihan.
“Iya Karina…kau kan selalu ada di hatiku selamanya.”ujarku pelan mencoba kuat dan berpasrah. Banyak yang tak bisa kuperbuat agar cinta kita kembali bersatu. Aku hanyalah manusia biasa, bukan dewa dari kayangan.
Kubiarkan ia menangis sepuasnya, tumpahkan segala beban yang mendera hati. Malam itu kuantarkan Karina kembali ke rumahnya. Semua diselubungi kebisuan tanpa bisa saling menyapa seperti dulu. Malam itu pula kuputuskan untuk kembali ke Kalimantan, tak ingin luka ini terus mendera.
Maaf Karina, bukannya aku lari dari kenyataan namun kupikir ini pilihan yang bijak. Kuputuskan untuk kembali ke Kalimantan. Mungkin pertemuan kemarin jadi cerita terakhir kita bersama namun akan terus kukenang dalam tiap desah napasku. Kau kan selalu ada dalam doa dan mimpiku, bertakhta abadi dalam hatiku. Walau duka ini begitu menyayat sukma, namun darimu aku belajar satu hal ; cinta sejati mencintai dengan tulus, bahkan mencintai hingga terluka. Cinta tak selamanya harus saling memiliki. Di sini kita berpisah, namun hati dan jiwa kita selamanya bersatu. Begitulah surat terakhirku buat Karina yang kutitipkan lewat Jose sebelum berangkat. Rencana untuk menikmati liburan di rumah Jose, menikmati segala keindahan kota kecil ini harus pupus sudah. Senja itu tak lagi merona indah, karena kita hilang sebelum senja datang menyapa lewat keindahannya.
Karina, izinkan aku hadir dalam mimpimu, kita lukis pelangi cinta kita walau itu hanya dalam mimpi. Karena dalam mimpi kita bisa bebas bersama, tanpa harus dibatasi ruang, waktu dan dipisahkan siapa pun. Kudoakan kau bahagia selamanya. Bila cinta di dunia tak mempertemukan kita biarlah keabadian mempertemukan kita dalam gemintang  nirwana yang kekal. I love you Karina…
                                                                                ***
Jogja, 10 September 2010
Untuk Karina, malaikat kecilku yang pernah bisikan cinta, masihkah kau menantiku???
Images by google.com
Situs Judi Online Terpercaya

2 Comments

Reply