Soekarno dan Politik Luar Negeri Indonesia Era Demokrasi Terpimpin Bag. III (Final)

0
76 views

2.2.2 Anti Hubungan Internasional
            Sikap Soekarno yang terkesan konfrontatif dan agresif juga menjadi alasan mengapa Soekarno menjadi sosok yang anti hubungan internasional. Ini nampak jelas dari kebijakan politik luar negeri Indonesia untuk keluar dari organisisi dunia PBB atau Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 7 Januari 1965 . Hal tersebut dilatarbelakangi ditetapkannya Malaysia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Tentu Soekarno sangat geram apalagi Indonesia sedang gencar-gencarnya melakukan politik konfrontasi terhadap Malaysia. Alasan lainnya yakni ambisi Soekarno untuk membentuk organisasi tandingan yang dikenal dengan nama Conference of the New Emerging Forces (Conefo)[1]. Menurut Soekarno dalam pidatonya pada peringatan Hari Buruh tanggal 1 Mei 1965, Conefo perlu digalang sebagai “Nasakom internasional” dan sebagai wadah persatuan kekuatan-kekuatan revolusioner di dunia. Pada masa Demokrasi Terpimpin Indonesia memberlakukan politik anti Barat yang lebih mengarah pada negara-negara kapitalis seperti negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Politik Konfrontasi tersebut dilandasi oleh pandangan tentang Nefo (New Emerging Forces) dan Oldefo (Old Established Forces). Nefo merupakan kekuatan baru yang sedang muncul yaitu negara-negara progresif revolusioner (termasuk Indonesia dan negara-negara komunis umumnya) yang anti imperialisme dan kolonialisme yang digalakkan negara-negara Barat[2]. Oldefo merupakan kekuatan lama yang telah mapan yakni negara-negara kapitalis yang neo-kolonialis dan imperialis (Nekolim)[3]. Untuk mewujudkan Nefo maka dibentuk poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-Pyong Yang. Dampaknya ruang gerak Indonesia di forum internasional menjadi sempit sebab hanya berpedoman ke negara-negara komunis. Selain itu pengalaman pahit dijajah selama 350 tahun atau tiga tiga setengah abad menjadi pelajaran berarti untuk bisa menentang kolonialisme dan imperialisme. Inilah yang kemudian menjadikan Soekarno bersikap hati-hati dengan negara-negara Barat dan lebih mendekatkan diri dengan Timur khususnya Cina yang mulai tumbuh sebagai sebuah negara besar. Ini pula yang menjadi alasan presiden Soekarno terkesan sebagai seorang yang anti hubungan internasional yang berbau kolonialisme dan imperialisme.
2.2.3. Kedekatan dengan Timur yang berhaluan Komunis
            Setelah keberhasilan Indonesia menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, telah menaikkan pamor dan kepercayaan diri sangat besar bangsa Indonesia di pentas internasional. Karena itu pula ketiga negara besar yakni Amerika Serikat, Uni Soviet dan Cina mengundang Presiden Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Selama kunjungan kenegaraan tersebut, Soekarno belajar banyak hal tentang situasi perpolitikan di Amerika Serikat, Uni Soviet dan Cina. Hal ini membawa pengaruh yang besar terhadap pola pikir Soekarno, terutama selama berada di Peking, Cina. Soekarno memperoleh kesan yang mendalam tentang kemajuan yang dialami Cina dibawah pemerintahan yang berhaluan komunis, masyarakat Cina teratur dan terkendali, serta perekonomiannya bergerak ke arah swasembada. Soekarno berpandangan bahwa pola politik yang tepat untuk dijalankan di Indonesia yakni mengikuti pola Cina ketimbang Amerika Serikat yang tidak cocok dengan pola pemikirannya. Kedekatannya dengan paham ini pula yang kemudian mencetuskan lahirnya Demokrasi Terpimpin yang tidak membatasi masa kepemimpinan presiden dan menjadi legitimasi pemerintahan yang otoriter. Karena kedekatannya dengan Cina ini pulalah Soekarno membiarkan tumbuh dan berkembangnya paham komunis di tanah air. Apalagi pasca berlakunya Demokrasi Terpimpin, keberadaan PKI (Partai Komunis Indonesia) semakin menjamur dalam masyarakat Indonesia. Kemenangan PKI di beberapa daerah dalam pemilihan propinsi tahun 1957 merupakan bukti kuat kemampuan PKI dalam memobilisasi dan memperluas basis massa. Sejak diberlakukannya kebijakan politik Nasakom atau nasionalisme, agama (Islam) dan komunisme. Karena terus mempertahankan eksistensi paham komunis di Indonesia maka pamor Soekarno semakin pudar setelah timbulnya Trikora yang menuntut pembubaran PKI dan ormas-ormasnya pasca aksi anarkis PKI yang lebih dikenal dengan nama Gerakan 30 September PKI pada tahun 1965. Walaupun Soekarno dengan Timur yang berpaham komunis namun Soekarno lebih memilih menjadi anggota Gerakan Non Blok(GNB) yang bersikap netral terhadap sistem politik internasional yang bipolar dengan dua kekuatan besar yakni Blok Barat yang diprakarsai Amerika Serikat serta Blok Timur yang dikomandai Uni Soviet. Ini tercermin dari pidato Soekarno yang berjudul “Jalannya Revolusi Kita” (Jarek) pada tanggal 17 Agustus 1960 yang menekankan pada hubungan ekonomi dengan luar negeri tidak boleh berat sebelah ke Barat ataupun Timur.
2.2.4 Harga Diri Harga Mati
                  Sebagai seorang nasionalis, banyak pidato Soekarno yang terus membakar semangat juang masyarakat untuk bisa mempertahankan kemerdekaan dari neokolonialisme dan imperialisme. Bagi Soekarno harga diri adalah harga mati. Menurut Frederick P. Bunnel dalam artikelnya “Guided Democracy Foreign Policy” menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia pada era Demokrasi Terpimpin itu lebih banyak dipengaruhi oleh “the ideological psychological impulses” dari Soekarno sendiri. Pemikiran-pemikiran Soekarno sendiri dipengaruhi oleh pandangan neo-Marxist-Lennist yang memandang sejarah sebagai kontemporer sebagai suatu proses dialektika yang terdiri dari tese (Oldefos) yakni negara-negara kapitalis Barat dan anitese (Nefos) yang berasal dari negara-negara yang baru merdeka. Kedua pihak ini akan terjadi perbenturan kepentingan (clash of interest) dan akhirnya akan timbul suatu sintese. Presiden Soekarno dalam pidatonya yang berjudul “Membangun Dunia Kembali”(To Build a New World) membangkitkan semangat masyarakat dalam membela harga diri bangsa dan negara dan melawan kolonialisme dan imperialisme[4]. Selain itu, pengalaman Indonesia yang pernah dijajah bangsa asing selama 350 tahun mempengaruhi pemikiran Soekarno secara psikologis tentang kebutuhan untuk dihargai (prestise). Ini yang kemudian mendorong Indonesia untuk tampil sebagai pemimpin yang dihormati di kawasan regional dan di panggung internasional[5].
BAB III
  PENUTUP
1.1  Kesimpulan
Sejatinya kebijakan politik luar negeri adalah untuk mencapai kepentingan nasional. Indonesia menyadari perlunya membina kerja sama internasional dengan negara-negara lain. Semenjak masa kepemimpinan Soekarno, pada era Demokrasi Terpimpin politik luar negeri Indonesia berkembang dalam politik konfrontatif terhadap bentuk neo-kolonialisme dan  imperialisme dari Barat yang berhaluan liberal. Perilaku konfrontatif ala Soekarno ini tercermin dari keinginan untuk menganyang Malaysia yang dipandang menjadi antek neo-liberalisme dari imperialism Inggris di kawasan Asia Tenggara. Sikap konfrontatif yang sama juga digalakkan pada penyelesaian kasus Irian Barat yang dipandang telah menjadi boneka Belanda hingga berhasil mengintegrasikan Irian Barat ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain politik konfrontatif, Soekarno juga membina hubungan yang dekat dengan Timur khususnya Cina yang berhaluan komunis. Kian berkembangnya PKI (Partai Komunis Indonesia) tidak lepas dari peranan Soekarno yang membuat kebijakan Nasakom (Nasionalis, agama dan komunis). Ini pula yang menjadi legitimasi pesatnya perkembangan PKI di Indonesia. Karena anti neo-kolonialisme dan imperialisme, maka Soekarno juga menjadi pemimpin yang anti hubungan internasional terhadap negara-negara Barat yang berbuntut pada keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB. Selain itu bagi Soekarno harga diri adalah harga mati. Ini dilandasi dan dipengaruhi oleh pemikirannya yang neo-Marxist-Lennist.
1.2  Saran
Karya tulis ilmiah sederhana ini, membahas tentang Soekarno dan Politik Luar Negri Indonesia era Demokrasi Terpimpin, dengan maksud dan tujuan pada represi ingatan kepada kita di era kepemimpinan Soekarno. Penulis tidak bermaksud untuk menambah kerancuan analisa, tetapi sebagai  manusia lemah, penulis menyadari bahwa karya tulis sederhana ini masih memiliki begitu banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran pembaca sangat kami harapkan. Maka dengan lapang dada  penulis sangat mengharapkan beragam kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan karya tulis  ini ke depannya.

Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA

1. Wuryandari, Ganewati (2008). Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Domestik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
2. Abdulgani, Roeslan. (1956). Mendajung dalam Tanjung. Jakarta : Penerbit Endang
3. Gaffar, Afan. (2006). Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
4. Morgenthau, Hans J. (2010). Politik Antarbangsa. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor

Sumber referensi dari internet:
1. “Konfrontasi Indonesia-Malaysia” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia#Latar_belakang diakses pada tanggal 10 November 2010
2. “Pemikiran Soekarno : antara idealisme dan rasionalisme” dalam http://irenkdesign.wordpress.com/2007/04/26/pemikiran-soekarno-antara-idealisme-dan-rasionalisme/ diakses pada tanggal 10 November 2010
3. “Indonesian Foreign Policy” dalam http://freya-ariga.over-blog.com/article-33138162.html diakses pada tanggal 10 November 2010
4. “Indonesia masa Demokrasi Terpimpin” dalam http://rinahistory.blog.friendster.com/2008/10/indonesia-masa-demokrasi-terpimpin-1959-1966/ di akses tanggal 10 November 2010



[1] Ibid., hlm. 104
[2]  “Indonesian Foreign Policy” dalam http://freya-ariga.over-blog.com/article-33138162.html di akses tanggal 10 November  2010
[3] Ibid.
[4] Wuryandari (ed), Politik Luar Negeri Indonesia…, hlm. 96
[5] Ibid., hlm. 97
                                                                   * * *
Jogja, 23 Februari 2011
pada pagi yang cerah… 
 Baca bagian I di sini
Baca bagian II di sini

Anda punya mimpi? Wujudkan itu !!! by Denny Neonnub

Kami menjual penirum asli, obat pembesar penis terbaik. Cocok untuk kamu kaum pria yang ingin memperbesar penismu dengan aman, sehat dan terpercaya. Silakan beli di jualpenirum.com

Penirum Asli Obat Pembesar Penis Terbaik
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here